
tanah lahirnya dan tanah suci
Saya pernah mendengar kutipan di atas beberapa tahun silam. Kabarnya, ia bersumber dari hadis shahih. Saya sendiri belum pernah membaca teks asli atau menemukan sumbernya. Tapi, sepertinya, ia berkata teramat tulus. Ia bercerita tentang kerinduan yang dimiliki oleh setiap insan. Nun jauh di kedalaman hatinya, tersimpan selalu kerinduan: pada tanah lahir dan tanah yang disucikan. Sebagaimana kita merindukan tanah lahir sekiranya dijauhkan, sebagaimana kita menginginkan pulang setelah lama di perantauan, sebagaimana kita mendambakan kehangatan keluarga setelah terpisahkan, seperti itu juga kerinduan dalam hati seorang mukmin terhadap tanah yang penuh keberkatan.
Kerinduan yang kedua di tanah suci, adalah kerinduan pada Rasulullah Saw. Kerinduan pada sang utusan. Kerinduan pada senyumnya yang menenangkan. Ah, betapa bahagianya bila diri ini dapat memandang wajahnya.
Ya Allah, inilah kami yang beriman kepadanya tanpa sempat memandang wajahnya. Anugerahkan pada kami di dunia kesempatan berziarah kepadanya, dan di akhirat duduk dengannya, bermajlis bersamanya, bercengkerama di kehadirannya. Rindu kami padamu, Ya Rasul…
Rindu kami padamu, Ya Rasul. Kepada siapa kami berlari, mencurahkan segenap duka diri. Kepada siapa kami menghadap, berbagi segala cemas dan harap. Engkaulah yang dirindukan mentari ketika bersinar pagi. Engkaulah yang membahagiakan hati. Engkaulah yang kini terbaring dipeluk bumi. Aduhai bahagianya, bila dapat kusampaikan salam kepadamu di samping bumi Madinah yang memeluk jasadmu.